Showing posts with label D-Day. Show all posts
Showing posts with label D-Day. Show all posts

Friday, May 30, 2008

D-Day 6




















HITLER MENYEPELEKAN SEKUTU
Selain perencanaan yang matang serta koordinasi yang luar biasa – menggerakkan armada dan logistik sebesar itu – terdapat sejumlah faktor teramat penting yang menyebabkan kemenangan pendaratan di Normandia yang diberi nama sandi Operation Overload tersebut.

Faktor Rusia jelas sangat tak bisa diabaikan. Saat itu Hitler tengah ngotot maju ke Rusia, dengan mengabaikan medan barat yang sudah berhasil ditakhlukkan. Akibatnya 56 divisi AB Jerman dialihkan ke Rusia. Untuk medan timur ini Hitler mengerahkan 157 divisi. Sementara itu Rusia melalui Stalin melakukan ofensif besar-besaran. Dalam sepuluh hari, 130 divisi pasukan Rusia berhasil menghancurkan seluruh kekuatan Jerman di situ, sehingga menewaskan, melukai dan menawan 350.000 tentara Jerman.

Faktor lain kesalahan Hitler sendiri, Sang fuhrer terlalu berobsesi segera mencaplok Rusia, sehingga ia mengabaikan permintaan para jenderalnya di medan barat. Von Rundstedt dan Rommel minta supaya pasukan di timur dikonsolidasikan, dan mengalihkannya ke Prancis. Ia pun tak bisa memberi solusi atas pertentangan dua jenderalnya itu. Von Rundstedt usul divisi tank diletakkan di garis belakang untuk melakukan serangan balasan secara massal kepada pasukan pendarat di Normandia. Sedangkan Rommel yakin, Sekutu harus secepatnya diusir ke laut pada jam-jam pertama. Ketidakbecusan Hitler mengambil keputusan berakibat fatal. Pasukan tank datang terlambat. ”Aku sungguh ingin menjabat tanggannya (Hitler) kata jenderal Sekutu.

Disamping itu, keberhasilan tersebut ditunjang oleh operasi intelijen yang terjitu dalam sejarah perang modern. Yaitu mengalihkan perhatian Jerman dengan mengerahkan dua armada pasukan palsu dibawah komando Jenderal Patton. Misi Patton seolah tengah bersiap menggempur Jerman dengan cara masuk lewat selat yang ditutup Jerman di Pas de Calais. Dengan sandi Double Cross, intelijen Inggris yang berhasil menggarap mata-mata Jerman lantas membocorkan informasi itu. Sehingga mereka mengirim pesan ”gerakan Patton” itu kepada Hitler. Selain itu intelijen Sekutu berhasil membongkar pula sandi rahasia intelijen Jerman sehingga diketahui segala informasi penting mengenai gerakan dan rencana pasukan Jerman.

Dan faktor terpentig lainnya adalah kemampuan pesawat udara Sekutu makin cangging yang sebelumnya diabaikan oleh Nazi. ”Mereka (AS) hanya bisa membikin mobil dan lemari es, bukan pesawat,” begitu ejek panglima AU Nazi (Lutfwaffe), Hermann Goering, pada Agustus 1941. Namun, kenyataanya sungguh lain, pesawat-pesawat AS dapat memotret udara dan pertahanan vitalnya. Tidak ada pesawat Jerman yang dapat mendeteksi serbuan pesawat Inggris. ”Di medan timur kita bertempur orang melawan orang, tapi di sini kami bertarung melawan mesin perang,” kisah seorang prajurit Jerman yang terjebak di Normandia. Dalam suratnya kepada anaknya beberapa pekan setelah Hari-H, Rommel mengatakan, ”Segala bentuk keberanian tidak membantu. Sungguh mengerikan... Setiap tembakan kita sekarang ini sepertinya berbalik menghantam kita sendiri dalam jumlah ratusan kali lipat.”

Bagaimana bila Operation Overload itu gagal? ”Jika Hari-H itu gagal, maka Agustus 1945 Amerika mungkin terpaksa menjatuhkan bom atom di Jerman.” Tutur William O’Neill, profesor sejarah PD II, ”bukannya di Hiroshima dan Nagasaki yang akan kita kenang, tapi Berlin dan Frankfurt”. Dua pekan setelah pendaratan di Normandia itu, AS berhasil membuat bom atom pertama.

Peristiwa besar itu sudah berlalu, 64 tahun silam. Operasi pendaratan ala Normandia mungkin tak akan ada lagi dalam sejarah perang masa sekarang dan masa mendatang. Zaman sudah bergulir ke teknologi jarak jauh, tapi lebih memusnahkan.

D-Day 5


















HITLER TIDUR NYENYAK

Ketika pasukan payung Inggris mendarat di gelap pagi di sebelah timur kota Caen, Jenderal Erich Marck, sang panglima pertahanan Jerman ke-84, justru tengah berpesta merayakan ulang tahunnya. Lalu Marsekal Erwin Rommel, sang panglima Nazi untuk pertahanan Eropa, saat itu justru tengah berpesta merayakan ulang tahun intrinya, Lucie. Tiga hari sebelumnya ia sempat pergi ke Paris untuk membelikan sepatu buat ultah istrinya. Dari komando Paris ia memperoleh laporan bahwa tak ada tanda-tanda Sekutuakan menyerang. Ia pun sempat melaporkan soal tersebut kepada Hitler, dan sempat mengotrol divisi panser dan tank. Rommel pun sempat meninjau pertahanan di Normandia. Sesudah memastikan keamanannya, ia mengajak istrinya berjalan-jalan sambil mencoba sepatu barunya.

Pada saat Sekutu menyerbu itu, Hitler pun tengah terlelap dalam mimpi. Ia kebetulan berada di Calais, prancis. Ia segera mengamati peta Prancis dan mengistruksikan serangan balasan kepada anak buahnya Goering. Tapi telat. Pasukan udara Inggris ke-6 lebih dulu memporakporandakan markas besar Divisi ke 716. Bahkan beberapa wilayah lain disekitar itu telah dikuasai. Kubu pertahanan Jerman pun kacau balau. Gelombang pendaratan tak tertahankan lagi, sementara dari belakang pasukan payung sudah menggunting. Praktis pantai Normandia jatuh hari itu. Dan dalam 24 jam berikutnya, sebanyak 155.000 pasukan Sekutu sudah bercokol di pantai tersebut. Ribuan tank, panser, jip, truk dan amunisi langsung pula didaratkan. Pijakan kokoh untuk melanjutkan pembebasan Eropa sudah digenggam Sekutu.

Pada hari-H itu, pihak Sekutu mengerahkan 155.000 pasukan, Jerman hanya 50.000 pasukan. 12.000 pesawat udara Sekutu, Jerman hanya 890 buah. 4,100 kapal pendarat dan 1.200 kapal Sekutu, sementara Jerman hanya 21 kapal. 950 tank Sekutu dan Jerman hanya 127 tank. Pada 24 jam pertama pertempuran hampir separuh pasukan Jerman dengan peralatan tempurnya diatas tewas.

Perintah Hitler supaya pasukannya bertahan sampai titik penghabisan pun tak bisa mengubah keadaan. Memang banyak unit pasukannya yang melawan habis-habisan. Tapi banyak unit lainnya yang langsung menyerah. Mereka kebanyakan terdiri dari orang tua, anak-anak dan para wajib militer dari negara-negara yang dikuasai Jerman. Satu batalion tentara Nazi bahkan menyerah dengan menggunakan sandi semapur kepada kapal perusah AS McCook yang menghujani mereka dengan meriam. Jernderal Karl Wilhelm con Schlieben, sang panglima Cherbourg, yang mengancam ”hukuman mati buat pasukannya yang mundur dari posisinya’ pun akhirnya menyerah setelah meriam AS mengarah ke bunkernya.

Toh, gerak maju Sekutu masih belum semulus rencana. Kota Caen yang dirancang bisa dikuasai pada hari pertama – kota ini strategis untuk loncatan serangan ke Paris – ternyata baru bisa dikuasai setelah enam minggu. Setelah itu gerak maju pasukan Sekutu seolah tak terbendung. Melalui operasi pemboman yang masif pada 31 Juli 1944, dengan sandi operasi Cobra, pasukan Jenderal George Patton berhasil menguasai kota strategis Avranches. Dari kota ini pasukan patton mengumpulkan tenaga dan bergerak ke timur. Pihak Jerman yang mencoba melakukan serangan balasan, justru terjebak di Argentan, dengan hasil 10.000 pasukannya tewas, dan 50.000 ditawan. Akhir Agustus Paris berhasil dibebaskan.
Bersambung ke D-Day 6

God Was On The Beach





God Was On The Beach On D-Day : Chaplain Burkhalter Tells Power of Prayers.

"Dear Mable,

It is mid-afternoon here in France several weeks after D-Day. Shells from heavy artillery are humming overhead and the sounds of shells bursting are coming from all directions in the not-so-far-off distance. The regiment I'm with forms part of the front line.

I entered France on D-Day with the "Fighting First Division." This Division has well-trained, courageous and experienced men. Our officers are of the highest order, men of great courage and experience who are war-wise and have seen a lot of battle. The First Division was the first to enter France in World War I and first to enter France in this war; they were the assault troops in the American sector on D-Day. There are not many close-up photographs of the First Division on D-Day because the beach was too hot for photography in those early morning hours and also all through the afternoon. Picture-taking was better in the days that followed.

When my part of the Division landed, there were impressions made on my mind that will never leave it. Just before landing we could see heavy artillery shells bursting all up and down the beach at the water's edge under well directed fire. As I stood in line waiting to get off the LCI to a smaller craft to go into shore, I was looking toward land and saw a large shell fall right on a landing craft full of men. I had been praying quite a bit through the night as we approached the French coast but now I began praying more earnestly than ever. Danger was everywhere; death was not far off. I knew that God alone is the maker and preserver of life, who loves to hear and answer prayer. We finally landed and our assault craft was miraculously spared, for we landed with no shells hitting our boat.

Ernie Pyle came ashore the morning after the assault and after seeing the results of what took place the day before he wrote in his article for the Stars and Stripes, "Now that it's all over, it seems to me a pure miracle we ever took the beach at all."

The enemy had a long time to fix up the beach. The beach was covered with large pebbles to prevent tank movements, and mines were everywhere. The enemy was well dug in and had set up well prepared positions for machine guns and had well chosen places for sniping. Everything was to their advantage and to our disadvantage, except one thing, the righteous cause for which we are fighting - liberation and freedom. For the moment our advantage was in the abstract and theirs was in the concrete. The beach was spotted with dead and wounded men. I passed one man whose foot had been blown completely off. Another soldier lying close by was suffering from several injuries; his foot was ripped and distorted until it didn't look much like a foot. Another I passed was lying very still, flat on his back, covered in blood. Bodies of injured men all around. Sad and horrible sights were plentiful.

In a recent write-up it is said of one of the colonels of the First Division that led his regiment in on the beach during the early morning, "This blue-eyed soldier had stood on the beach where thousands of men were pinned down by enemy fire, and in a quiet drawl said, 'Gentlemen, we are being killed here on the beaches; let's move inland and be killed there.'"

In from the beach were high hills which we had to climb. We crawled most of the way up. As we filed by those awful scenes going up the hill and moving inland, I prayed hard for those suffering men, scattered here and there and seemingly everywhere.

We filed over the hill as shells were falling on the beach back of us, meaning death for others who were still coming in. Later, one of the soldiers told me that on this occasion he saw a shell land right on top of a wounded man and blow him to bits. Before going over the top of the hill we crouched for awhile close to the ground just below the top. While lying there I did most of my praying. The shells were falling all around and how I knew that God alone was able to keep them away from us. I shall never forget those moments. I am sure that during that time I was drawn very close to God.

Later, about ten of us were crossing along the edge of a field when we heard sniper bullets whiz by. We all fell to the ground. As we lay there hugging the earth, that we might escape shrapnel from shell fire and bullets from sniper's guns, the birds were singing beautifully in the trees close by. As I lay there listening I thought of the awfulness of it all; the birds were singing and we Human Beings were trying to kill each other. We are the greatest of God's creation, made in the image of God, and here human blood was being spilt everywhere. About three minutes later and only about forty yards away we filed by one of our own boys lying by the side of the hedge, crouched over with a hole in the back of his head. His eyes were open but he was dead, hit by a sniper. We didn't have time to stop, we were pushing on inland making a new front as we went. Someone behind and hours later would move him.

On the afternoon of the second day we were quite a way inland and two of my assistants and I were out trying to locate bodies of dead soldiers. We always take care of the American dead first and then the enemy dead. This was the second day and we were still fighting our way ;inland, moving fast. Since we did not have any vehicles yet to send bodies back, all we could do on the move was to put the bodies in mattress covers and leave them in a marked place to be taken care of later by the rear echelons. Our business was to keep fighting on inland and pushing the enemy back. On the roadside my assistants and I saw a dead German officer. He was a tall fellow; must have been about six feet four. We turned him over and stretched him out the best we could. I looked at his face and was surprised to see how young he looked. No doubt he was in his twenties but he had the face of a boy. I thought: surely, this fellow was too young to die. It almost seemed that he had asked for it. I became conscious of an awful evil force behind it all to cause a young fellow like this to seemingly hunger and delight to kill and be killed. We slid his body into a mattress cover and left him by the side of the road.

Most of this section of France we are moving through is farming area with fields and hedges and orchards. We see cows and chickens and ducks and pigs and all that goes with farming.

On one occasion we were near some farm houses and some large shells began to fall, so several of us near a stone barn dashed into it to get out of the way of shrapnel. Just inside was a mother hen covering her little chicks. When we hurried in she became frightened and fluffing her feathers rose up to protect her young. I looked at her and silently said, "No, mother hen, we are not trying to hurt you and your little family, we are trying to hurt each other."

Nobody can love God better than when he is looking death square in the face and talks to God and then sees God come to the rescue. As I look back through hectic days just gone by to that hellish beach I agree with Ernie Pyle, that it was a pure miracle we even took the beach at all." Yes, there were a lot of miracles on the beach that day. God was on the beach D-Day; I know He was because I was talking with Him.

While in England Chaplain Burkhalter wrote his wife that he had visited many places of interest in his days off duty and among them, he was exceptionally happy to have the privilege of visiting the Baptist Headquarters in London and had a nice little visit with 'dear Dr. Rushbrooke," President of the Baptist World Alliance. He said that "Dr. Rushbrooke is such a humble and Godly man and that you could just see the Lord in his face."

Since his equipment has arrived, Chaplain Burkhalter has a jeep and a trailer, a square box with canvass covering, in which he carries his organ, desk, typewriter, song books, bed roll, etc. He has a clerk and four assistants working with him. He has held field services out under the trees in France, and the Lord has been very real as they felt His presence there. Chaplain Burkhalter is the proud father of a baby daughter, Mabel Jean, born March 21, after he went overseas. Mrs. Burkhalter is living with her mother in Crawfordsville, Indiana.

caption : Capt. John G. Burkhalter, former Miami minister and now chaplain with the "Fighting First" division in France, performs a job not required of him by checking the identification of a dead German soldier just ahead of the burial squads.

Be Strong






Be Strong!

Be strong!
We are not here to play, to dream, to drift.
We have hard work to do and loads to lift.
Shun not the struggle,
face it: 'tis God's gift.

Be strong!
Say not the days are evil. Who's to blame?
And fold the hands and acquiesce, O shame!
Stand up, speak out
and bravely, in God's name.

Be strong!
It matters not how deep entrenched the wrong,
How hard the battle goes, the day is long:
Faint not, fight on!
Tommorrow comes the song.

-- Maltbie D. Babcock
highrock.com/ JohnGBurkhalter/D-day.html

D-Day 4












SEMUA MELESET DARI RENCANA

Pihak sekutu sendiri sejak 1942 sudah merumuskan strategi: harus masuk dari Prancis untuk menusuk jantung Jerman. Namun rencana itu selalu saja berantakan karena kerap terjadi perbedaan pendapat mengenai strategi dan logistik antara Inggris dan AS. Akhirnya rencana besar itu – dengan komando dipegang oleh Jenderal Dwight ”Ike” Eisenhower – mulai digarap serius sejak 1943 sampai awal 1944. selagi perencanaan digodok terus, tentara AS diterbangkan ke Iggris selatan, sehingga mencapai hampir satu juta orang menjelang D-Day.

Pilihan pendaratan jatuh ke Normandia. Alasannya, meski dari segi alam lebih ganas, tapi pantai itu lebih lemah pertahanannya. Pilihan tidak jatuh ke Calais, atau pelabuhan besar lainnya. Pihak Sekutu belajar dari pengalaman pahit pasukan Kanada ketika menyerbu Pelabuhan Dieppe Prancis pada 1942, yang gagal total sebelum mendekati pelabuahan gara-gara benteng pertahanannya sangat kuat.

Ofensif ke Normandia itu pun menggunakan taktik ”klasik”: menusuk dari depan dan belakang. Selain mengerahkan gempuran dari kapal meriam, memuntahkan pasukan ke pantai, Ike mengerahkan serbuan pasukan payung besar-besaran ke garis pertahanan belakang Jerman untuk memotong bala bantuan serta diterjunkan di pantai. Dari udara pesawat pembom melakukan gempuran. Untuk menangkal serangan balasan dari pesawat udara Jeman, pihak Sekutu melepaskan balon-balon udara yang diikat dengan kawat baja. Kami harus secepat mungkin memperoleh pijakan dulu dan bru menusuk ke pedalaman,” kata komandan lapangan Inggris Jenderal Bernard Montgomery sebelum penyerbuan.

Toh di atas kertas lain dengan hasil di lapangan. Rencana pendaratan tanggal 5 Juni terpaksa dibatalkan setelah sepuluh perahu dengan 1.000 tentara yang mencoba melakukan pendaratan, lenyap disapu ombak. Tanggal 6 Juni yang diramalkan bakal cukup baik cuacanya, ternyata tetap kurang menguntungkan meski sudah lebih baik ketimbang hari sebelumnya.

Maka sejak dari perintah pertama penyerbuan dikumandangkan, mulailah kesalahan demi kesalahan terjadi. Pasukan payung yang diterjunkan dari ratusan pesawat transpor C-47 – dengan kapsaitas 12 pasukan – nyaris tak ada mendarat di tempat yang tepat, akibat kabut tebal dan angin kencang. Mereka harus membersihkan arena pendarata buat para marinir. Gempuran meriam dari kapal-kapal sekutu pun tak mampu melumpuhkan kubu-kubu meriam Jerman yang terus memuntahkan maut. Dalam suasana yang kacau-balau itu, pukul 05.00. sekitar 3.000 tentara Sekutu berhasil menginjak pasir Pantai Normandia. Mereka harus tertatih-tatih menghindari semburan peluru dan meniti medan ranjau. Dari jumlah pendarat pertama itu, hampir separuhnya tewas sebelum sempat melepas satu peluru pun.

Pantai Omaha benar-benar berubah menjadi arena penggilingan daging. ”Pantai Omaha benar-benar mengerikan.” tulis Letjen Omar Bradley dalam laporannya. Setelah itu, gelombang demi gelombang pasukan berdatangan, dengan kematian yang setiap menit menjemput. Mereka berhasil menembus pertahanan Jerman di perbukitan.

Bersambung ke D-Day 5

D-Day 3











NERAKA DI NORMANDIA
Posisi tentara Jerman di pantai dan dibukit-bukit patai lebih menguntungkan. Akibatnya, lebih dari 200 pasukan AS yang mendarat pertama tewas, tanpa memiliki kesempatan membalas. ”Pantai dan daratan Omaha menjadi lautan mayat,” kata Letjen Omar Bradley, komandan lapangan AS di garis depan. ”Kulit kami bergidik melihat pemandangan itu. Sejumlah orang diam dalam kesunyian. Hanya terlihat air mata dan kematian yang ada. Saya tidak ingin merasakan seperti itu. Saya hanya melihat dan segaera membenahi perahu. Salah seorang prajurit menangis melihat temannya tewas. Kapal yang hancur ditarik ke kapal USS Chase, yang kami tinggalkan seperempat jam sebelumnya.” Divisi tank Jerman ke 21 berhasil membuat kocar-kacir tentara AS sejauh tiga mil dari pantai.

Norbert N. Peters, dari Divisi Infantri ke-1 berkisah, di depan kami terhalang bukit yang terjal. Tingginya 15 meter. Tapi itu harus dilewati, apapun risikonya. ”Kami mendaki lewat batu-batu, saya lihat empat prajurit Jerman yang menangani meriam. Saya menghampirinya dengan sembunyi. Dengan jarak yang enak, saya menghantamnya. Dua orang tewas, dua menyerah. Saya menyelamatkan teman-teman saya di bawah.” katanya.

Adolf Hitler pun kaget. Dalam kalkulasi Hitler dan para jenderalnya. Termasuk Jenderal Erwin Rommel yang bertanggung jawab atas Normandia. Sekutu tak mungkin melakukan pendaratan di Normandia. Alasanya, kawasan laut di situ sangat berbahaya. Cuaca sangat cepat berubah dan arus lautnya deras. Maka dalam kalkulasi Nazi Jerman, pendaratan ke Prancis yang sudah dikuasai Jerman sejak 1942 akan dilakukan di Calais, sekitar 300 km utara Normandia, atau Cherbourg. Asumsinya, di situ perairan selat yang paling dangkal. Serta ada pelabuhan besar. Di situlah Nazi menempatkan pasukan perhanan pantai yang amat kuat. Toh, di Pantai Normandia, Hitler menempatkan lebih dari 10.000 pasukan yang dilengkapi dengan bunker, meriam pantai, Tank Tiger MK IV berbobot 80 ton dengan meriam 88 mm, meriam antithank Flak 42 ukuran 88 mm, tank Panther, dan senapan mesin MG-42.

bersambung di D-Day 4

D-Day 2









SARAPAN TELUR DAN KOPI

Pada pukul 03.00, 6 Juni 1944, diatas kapal USS Chase – salah satu dari 5.300 kapal milik sekutu – seorang prajurit dari Infantri ke 16 Amerika Serikat menulis dalam buku hariannya. ”Kami mempersiapkan diri sejak dini hari.” Beragam cara yang dilakukan prajurit lainnya untuk mengisi jam-jam yang paling menegangkan dalam hidupmereka itu. Sarapan pagi berupa telur dan kopi panas, tak bisa dinikmati dengan enak. ”Inilah sarapan terakhirku?”

Cuaca sungguh jelek. Kabut menggelantung pekat. Ombak besar. Kapal-kapal kecil terombang-ambing. Di dalam kapal-kapal pendarat itu nyaris tak tersisa ruang kosong. Prajurit berjejalan, sebagian yang mabuk laut memuntahkan isi perut sekenanya. Ada yang kena muka rekannya, atau sepatu temannya. Semuannya begitu sibuk dengan hatinya sendiri-sendiri. Bagi sebagian besar projurit dari AS, Inggris dan Kanada itu –total berjumlah 370.000 orang – inilah pengalaman tempur mereka yang pertama, dan mungkin yang pamungkas.

Dengan kecepatan 6 knots, satu jam kemudian, pintu dek landing ships tank (LST) terbuka. Garis pantai Normandia nampak kehitaman, masih sejauh 11 mil, di pantai itu sudah menunggu sekitar empat juta ranjau, bermil-mil pagar kawat berduri, ribuan senapan mesin, meriam dan tank. Tapi pasukan Jerman yang menunggui senjata-senjata itu tak menyadari akan kedatangan tamu sedemikian banyak. Sementara itu, pasukan payung yang akan diterjunkan ke garis belakang pertahanan Jerman di Normandia juga sudah disiapkan.

”Sebagai orang beragama,aku meminta kalian untuk berlutut bersamaku untuk berdoa. Jangan menunduk, tapi dongakkan kepala kalian supaya dapat melihat Tuhan, dan minta rahmat dan bantuannya,” kata seorang kolonel yang memimpin satu batalion pasukan payung, sebelum memasuki pesawat terbang. (sang kolonel tewas beberapa hari kemudian).

Dan detik penyerbuan tiba. Meriam kapal berdentum-dentum, membangunkan pasukan Jerman. Di tengah terpaan angin yang sangat kuat, para prajurit di tongkang-tongkang berlompatan ke air. Mereka berenang sekenanya. Serbuan dibagi dua. Tentara AS di pantai Utah dan Omaha. Inggrisdan Kanada di sebelah Timur di pantai Gold, Juno dan Sword.

Beberapa prajurit terlihat timbul tenggelam ketika sebuah mortir Jerman menghantam lambung perahu. Mereka saling berpegang ke tangga. Seorang perwira marah ketika sejumlah prajurit kembali ke kapal. Beberapa kapal terhempas badai dan lenyap di dasar Selat Inggris. Jarak pantai masih jauh. Peluru terus bertebaran. Ada yang selamat, tapi banyak pula yang hilang begitu menyentuh air laut. Ada yang saling menembak sambil berenang.

“saya mencoba berpegang pada tiang besi. Sepuluh meter di depan saya, sebuah tank amphibi terbakar kena hantam mortir. Jerman masih menembaki setiap gerakan. Sulit bagi saya untuk membalas. Akhirnya tongkang kami terkena juga. Untung saya selamat. Saya terus berenang. Surat keluarga dan beberapa foto dalam kantung basah. Tapi saya terus bertahan. Di depan saya, dua prajurit berhasi mendarat di pantai. Akhirnya saya merasakan daratan makin dekat. Bibir saya mulai menyentuh daratan,” kenang seorang prajurit AS.

Pantai Omaha menjadi sasaran pertama. Tapi tidak semuannya beruntung selamat sampai pantai. Ada yang baru masuk ke tongkap sudah harus kembali lagi ke kapal menjadi mayat. Akibatnya dek kapal penuh dengan prajurit yang tewas. Di pantai ini, divisi Infantri ke-1 dan ke-29 harus menghadapai hujan tembakan dari penjaga pantai Jerman. ”Banyak prajurit yang menangis dan memanggil-manggil Ibunya,” cerita seorang prajurit. Sepuluh menit pertama sebanyak 197 tentara tewas dan luka-luka. Termasuk perwira dan prajuritnya. Pantai Omaha menjadi neraka. Sementara pendaratan di Pantai Utah yang dilakukan Korps VII AS dan Divisi Infantri ke _4 di ujung sebelah barat situasinya sama saja.

”Hanya ada dua jenis orang yang berada di pantai ini: orang mati dan mereka yang akan mati!” teriak seorang letnan kolonel memberi semangat anak buanya. Kata-kata itu terus dikumandangkan, termasuk oleh anak buahnya. Dan ia pun termasuk yang akhirnya mati.

Bersambung ke D-Day 3

D-DAY 1










(Ditulis kembali oleh Ignata dari Jakarta-Jakarta No 413 4-10 Juni1994)
Tepat 64 tahun silam, pada 6 Juni 1944, sebuah sejarah besar dicetak oleh pasukan Sekutu dengan pendaratan di Normandia. Inilah pendaratan (serbuan ke pantai) terbesar sepanjang sejarah perang, dan tak mngkin terulang lagi dalam perang yang lebih modern. Pendaratan ke Normandia ini menjadi kunci penentu pembebasan daratan Eropa dari cengkeraman tentara Hitler.

Peristiwa itu diperingati secara besar-besaran, pada peringatan ke 50 di tahun 1994, termasuk kehadiran seluruh kepala negara Sekutu dan Eropa pada umumnya, mewakili dua sisi kehidupan: kemenangan dan kekalahan. Toh, baik si pemenang maupun si pecundang pada dasarnya meraskan hal yang sama: kepahitan dan kepedihan. Kini semua pun berharap, semoga kejadian itu tak terulang kembali.

Namun sejarah 64 tahun lalu itu masih menyisakan sedikit kontroversi. Sebagian rakyat Prancis, yang dikenal punya rasa nasionalisme yang tinggi bahkan cenderung chauvinis, tak bisa menerima bahwa Prancis dibebaskan oleh Sekutu. Mereka bilang Prancis bebas berkat perjuangan rakyat Prancis sendiri yang dipimpin De Gaulle. Sebaliknya, Inggris, Amerika Serikat dan Kanada bilang, merekalah pembebasnya. Sejarah mencatat, dalam penyerbuan ke Normandia tak ada pasukan Prancis yang terlibat. Dalam pertempuran selanjutnya menuju Paris, barulah pasukan De Gaulle aktif membantu. Sebuah Kontroversi menyangkut harga diri, itu saja.

bersambung ke D-Day 2